Jumat, 20 September 2013

GALENICA 2013 - Minggu Pertama

Tahun ajaran baru di kampus Universitas Jember selalu diawalai dengan kegiatan Pembinaan Pengembangan Mahasiswa Baru ( P2MABA) termasuk fakultas tercinta kita, “Farmasi”. Kegiatan ini disebut GALENICA,  yang berarti nama suatu sediaan yang berupa simplisia yang belum diproses , sama hal nya dengan  para mahasiswa yang baru saja menyandang gelar calon “Pharmasist”.

Kegiatan ini merupakan kegitan tahunan yang selalu ada di program kerja BEM yang dilaksanakan pada bulan pertama keaktifan masa kuliah di semester ganjil pada hari-hari weekend. Berbeda dari  tahun-tahun sebelumnya dimana galenica diadakan selama empat hari di akhir pekan selama dua minggu berturut-turut, acara yang diketuai  oleh Choirul Umam ini, mahasiswa fakultas Farmasi Universitas jember angkatan 2012, berlangsung enam hari selama empat minggu. Tahun ini acara Galenica diselenggarakan tanggal 14, 15, 21, 22, 29 September dan 5 Oktober 2013.

Kegiatan ini dimulai pukul 06.00 dan berakhir pukul 15.30. Setiap  harinya, galenica diawali dengan pemeriksaan tiket masuk, dimana tiket masuk untuk setiap harinya selalu berbeda. Selanjutnya dilakukan apel pagi yang diisi oleh kakak-kakak dari Komisi Disiplin dan sarapan pagi di lapangan kampus fakultas Farmasi Universitas Jember, dan setelah itu dilanjutkan dengan penyampaian beberapa materi oleh beberapa pemateri internal yang berasal dari fakultas Farmasi sendiri. Penyampaian materi dilaksanakan di Ruang Kuliah 3 fakultas Farmasi.
   
Acara Galenica dibuka dengan upacara apel pagi yang dipimpin oleh pembina apel, Alief Rizky, selaku Presiden BEM fakultas Farmasi Universitas Jember yang dilaksanakan pada Galenica hari pertama. Pada hari pertama ini banyak mahasiwa baru yang datang terlambat.

Pada hari kedua acara galenica diawali dengan apel pagi pukul 06.00 di lapangan fakultas Farmasi. Setelah itu dilanjutkan dengan sarapan dan penyampain materi seperti pada Galenica hari sebelumnya. Acara yang disampaikan pada hari kedua ini adalah Pengenalan BEM dan ISMAFARSI, Pengenalan JMKI, Pengenalan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dan Kiat Sukses Studi dan Berorganisasi.

    

Runner-Up Lomba Cerpen Lingkar Kategori Pelajar

 RENTA






Nama               : Neesrina Mafaza Suroyya
TTL                 : Jember, 1 Maret 1998
Alamat             : Jl. Dr. Wahidin SH no. 18 Balung Jember
Instansi            : SMAN 1 Jember
No. Hp            : 085790538xxx

Berbicara tentang renta, aku ini renta. Tua, lemah, dan peyot. Aku tak punya keluarga, dan tak mungkin punya keluarga. Walau tak punya keluarga aku tak sendiriran, Aku selalu ditemani seorang kawan yang lebih renta dariku. Lebih tua dan lebih lemah. Bersama kawanku aku menempuh jarak yang jauh, mencari sesuap nasi untuk menyambung hidup. Agar dia terus hidup, agar dia tidak sakit, agar dia selalu ada untukku, menemaniku. Bersyukur memiliki seorang kawan sepertinya. Dia selalu merawatku, membersihkanku setiap pagi.
Dibalik semangatnya dan kebaikannya dia menyimpan sejumlah kepedihan. Suaminya meninggal, anak satu-satunya pergi merantau tak pernah kembali. Dia sendirian dan sangat kesepian. Setiap malam dia selalu menangis dan meratap,” Anakku pulanglah, ibu rindu”. “Jangan menangis kawan aku selalu ada disini bersamamu,” aku berkata padanya. Sayang dia tak akan bisa mendengar apa yang aku katakan. Andai aku punya tangan ingin sekali aku menghapus air matanya itu. Tak tega melihat wanita berhati lembut sepertinya menangis.
                                                            *****
Di bawah sinar mentari yang terik dia menjajakan dagangannya bersamaku, sepeda tua yang peyot. Tapi dia tak menampakan raut muka yang lelah. Dia selalu tersenyum di setiap rumah pelanggan. Walau tak menampakkannya, aku tahu sebenarnya dia sudah sangat lelah. Terlihat dari kaki tuanya yang sedang mengayuh sepedaku. Tak tega rasanya melihat kaki tua itu.
Kami beristirahat di sebuah pohon besar di pinggir jalan raya. “Kita berteduh dulu ya,”katanya sambil tersenyum padaku. Orang mungkin akan menganggapnya gila karena dia berbicara dengan sebuah sepeda tua. Tapi dia tak gila. Dia hanya kesepian, tak tahulah keluarganya dimana. Hanya akulah yang menemaninya, tempatnya berbagi suka dan duka.
Tiba-tiba ada dua orang preman mendekati kami. Mereka merampasku dari kawanku. Aku ingin meronta tapi tak bisa, aku hanya benda mati. Kawanku berusaha merebutku dari mereka. Dia menyerahkan semua kerja keras kami hari ini demi mendapatkanku kembali. Betapa baiknya wanita ini. Dia menyerahkan uangnya yang dia gunakan untuk menyambung hidup demi aku.
Kedua preman itu pergi. Dia tampak bahagia karena preman itu tak jadi membawaku. “Sekarang kita mencari uang lagi ya, uang kita habis”, dia berkata padaku seolah hendak menyemangatiku.
Kalian pasti bertanya-tanya mengapa dia sangat baik padaku, bahkan rela menyerahkan semua uangnya hari ini agar aku tak dibawa preman. Aku adalah sepeda tua peninggalan suaminya. Mungkin karena itulah aku sangat berharga baginya.
Dia kembali menjajakan dagangannya. Kali ini dia menjajakan dagangannya lebih lama daripada hari biasanya. Walau dia berjualan lebih lama fari hari biasanya tapi hasil yang dia dapat sangat sedikit. Dagangannya hanya laku 2.
Tiba-tiba ditengah perjalanan ban ku bocor. Dia mencari-cari tempat tambal ban yang masih buka. Sayang nampaknya hari sudah sangat larut, jadi dia tidak menemukan tempat tambal ban yang masih buka. Maka diapun menuntunku hingga rumah. Tampak raut muka yang sangat lelah dari wajahnya. Kasihan sekali wanita berhati mulia ini. Terima kasih tuhan, akku dirawat oleh wanita yang berhati mulia, wanita yang selalu baik pada siapa saja. Bahkan kepada sepeda tua sepertiku.
Karena aku, malam ini dia hanya makan singkong. Uang untuk membeli nasi kurang karena siang tadi dia telah menyerahkan semua uang yang dia miliki telah dirampas preman.
                                                            *****
Semakin hari dia tampak semakin kurus. Tampaknya dia sedang mengalami gangguan kesehatan, dia sedang sakit batuk. Karena orang miskin dia hanya minum obat di warung.
Setiap hari batuknya semakin parah. Dia tau itu bukan batuk biasa, dan akupun mengetahuinya. Dia harus berobat ke dokter agar sembuh. Tapi, dia tak punya cukup uang untuk ke dokter. Dia hanya minum obat warung. Tuhan seandainya aku manusia, aku akan membantu wanita mulia yang malang ini. Aku akan membawanya ke dokter memberinya makanan bergizi dan tempat yang layak. Sayang aku hanya sepeda tua, yang sama lemahnya sepertinya dan sama tak berdayanya.
 Walau sakit dia tetap bekerja, dia tetap bersemangat. Bangun pagi-pagi buta, membersihkanku, dan menyiapkan dagangannya. Sebenarnya keadaannya sangat lemah hari ini. Tapi, dia tak menampakkannya. Bahkan tetangganya pun tak ada yang tahu dia sedang sakit keras. Dia selalu berkata bahwa dia hanya batuk biasa. Dia berusaha sebisa mungkin menutupi keadaannya yang sedang sangat tidak sehat. Dia tak ingin menyusahkan siapapun.
Dia wanita yang sangat kuat. Bahkan dia tetap tampak sangat tegar dikeadaan seperti ini.
                                                            *****
Keadaan sangat tak baik malam ini. Batuknya sudah benar-benar sangat parah. Dari dinding gubuknya aku dapat melihat dia sangat menderita. Dia tereus-menerus batuk. Hingga pada puncaknya aku melihat dia mengeluarkan darah dari mulutnya. Setelah itu dia terbaring di dipannya yang terbuat dari bambu. Karena melihatnya tertidur, aku mengira dia telah baik-baik saja. Aku tak mengira bahwa itulah tanda bahwa akhir hidupnya sudah sangat dekat.
                                                            *****
Keanehan terjadi hari ini, dia tak bangun dari tidurnya. Tidak biasanya, bukankah biasanya jam segini dia sudah siap untuk menyongsong rezekinya. Bukankah biasanya dia sedang membersihkanku. Mengapa dia masih tertidur lelap di dipan bambunya. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benakku. Mungkin itu efek dari obat yang dia minum semalam. Aku berharap semoga dia baik-baik saja.
Keanehan yang lain juga tampak lagi. Saat hari menjelang siang dia masih tertidur,dan banyak sekali tetangganya yang datang ke gubuk reyot miliknya. Oleh tetangganya lalu dia ditutupi kain putih. Dan tampak anaknya menangis disampingnya. Mengapa anaknya datang kesini. Mengapa dia sekarang dibungkus kain putih. Mungkinkah dia telah pergi. Tidak, dia tidak boleh pergi. Siapa yang akan merawatku sekarang. Siapa yang akan mengayuh pedalku.
“Kawan jangan pergi, jangan tinggalkan aku”, aku berteriak padanya. Aku menangis, tapi tak ada seorangpun yang dapat mendengarku.
Sepeninggalnya, aku sendirian di gubuk tua ini. Tak ada lagi yang menggunakan maupun merawatku. Seiring berjalannya waktu, diriku tampak semakin tua, semakin tak terawat. Badanku semakin berkarat, bahkan berlubang. Pedalku lepas dari badanku. Banku berlubang. Seluruh tubuhku tertutupi oleh debu yang cukup tebal.
Pada suatu hari tiba-tiba ada seseorang masuk ke gubuk milik kawanku yang telah lama tiada ini. Apakah itu pencuri. Aku sangat takut sekali.
Ternyata anak kawanku yang datang. Tampaknya, dia memiliki hati yang baik seperti ibunya. Mungkin dia datang kesini untuk mengambilku, untuk merawatku.
Ternyata benar dia datang untuk mengambilku. Terima kasih tuhan. Pasti ibunya sangata bangga memiliki anak sebaik ini.
Dia membawaku pergi ke suatu tempat yang tak aku kenal. Tempat apa ini, mengapa banyak sampah berserakan. “Jual-Beli Besi Tua”?? Mengapa dia membawaku ke sini. Mengapa ada pria yang membawa gergaji. Mengapa pria ini mendekatiku.

Jangan dekati aku, Jangan potong aku. Aku tak ingin berakhir seperti ini. JANGAN!!! 

Runner-Up Lomba Cerpen Lingkar Kategori Mahasiswa

KAYUHAN KAKI SI MBAH

Oleh:
Nama               : Annisa Nurul Pratiwi Sudarmadi
Alamat             : Jl. Tawang Mangu 6A Pelinggian Antirogo
No. Tlp            : 085258720xxx
Twitter             : https://twitter.com/iichach

“Kamu nggak punya ayah?” aku mengangguk. “Aku punya-nya ya cuma si Mbah.” Dari kecil pertanyaan itu selalu melintas di kepalaku. Kenapa orang-orang selalu melihatku dengan tatapan iba, itu juga selalu mengganggu pikiranku. Entah kenapa, Si Mbah cuma mengelus kepalaku pelan. “Le, temenin Simbah bikin layangan yuk.” Akhirnya pertanyaanku hilang terbawa angin. Si Mbah memang hebat, sekali Si Mbah mengajakku melakukan sesuatu hal yang mengasyikkan, aku pun cepat terlena dibuatnya.
Si Mbah. Itulah panggilan orang-orang di Ledokombo Kulon pada Mbahku. Otomatis, aku juga memanggilnya begitu. Perawakannya yang tegap membuat orang mengira Si Mbah adalah mantan gerilya perang. Tapi Si Mbah hanya terkekeh-kekeh menanggapinya. Ia tertawa melihatkan gigi-gigi dan rahangnya yang masih nampak kuat dan menampiknya pelan, “Lho kalau Simbah gerilya, Simbah pasti takut duluan. Serem!” Simbah memang pintar berkelakar.
Si Mbah juga senang sekali berkebun, kebunnya yang sering Si Mbah bilang, “Kebun Si Mbah sak’ipretle. Tapi kalau kamu sudah gedhe, belikan buat Si Mbah ya!” Si Mbah menepuk punggungku pelan. Aku Cuma termangu dan kembali bermain. Beli Kebun? Pakai apa?
Si Mbah biasa menyeruput kopi buatan Mak’e di kebun. Ia sering menimang buah yang ia unduh sendiri dan menjualnya ke kota. Yang aku tahu, Si Mbah pulang dan membawa uang walaupun biasanya cuma beberapa lembar berwarna kuning, tapi Si Mbah malah mengajakku membeli buku di terminal. “Le, ini buat beli buku ya. Belajar membaca itu penting. Nanti Si Mbah panggilin Mbak Nur buat ngajarin kamu.” Aku mengangguk-angguk kegirangan melihat Si Mbah membelikanku buku bacaan.
Ya, Mbak Nur adalah sosok kedua yang sempat mengisi hari hariku di waktu kecil. “Sap, kamu ngerti ini nggak?” Ia menunjuk-nunjuk bilangan dan  angka-angka di buku yang ia bawa. Aku mengangguk. “Ngerti mbak, ini ditambah ini sama dengan ini... tapi darimana?” Alhasil Mbak Nur menepuk jidatnya pelan. “Gini...” Mbak Nur mengulanginya dari awal.  Semakin aku beranjak besar, Mbak Nur makin jarang pulang. Kata Si Mbah, Mbak Nur lagi kuliah mau jadi perawat. Nanti kalau sudah lulus, Mbak Nur pasti kembali lagi.
Seiring dengan berjalannya waktu, kebun Si Mbah semakin semarak  dengan bermacam-macam buah. Si Mbah sekarang juga aktif di setiap kegiatan desa. Si Mbah tetap sama seperti Si Mbah yang dulu, namun Si Mbah jadi lebih sering tadarus di masjid. Si Mbah semakin aktif menanam sampai aku masuk ke jenjang SMP di daerah Kalisat. Sampai aku umur belasan, masih ada saja tetanggaku yang usil bertanya, kapan ayahku kembali. Namun, aku masih saja belum bisa menjawabnya. Banyak yang bilang, Ayahku kabur karena Ibuku meninggal ketika melahirkanku. Ayahku depresi. Tapi ada juga yang bilang, Ayahku sudah hilang menjadi buruh di Malaysia. Dengan tidak ada kabar begitu, aku bisa menyimpulkan sendiri bahwa Ayahku benar benar sudah melupakanku. Intinya, sekarang aku cuma punya Si Mbah dan Mak’e.  
 “Le, gimana sekolahnya?” Tak seperti dulu, aku melengos dan menutup pintu keras. Biasanya waktu kecil, Si Mbah sering merayuku dengan mainan. Kalau sudah begini aku pasti luluh. Tapi pertanyaan orang-orang yang dulu sempat dilontarkan padaku, kembali lagi. “Kemana ayahku pergi?”
Aku tahu, Si Mbah bukanlah orang yang suka berbohong. Biasanya Si Mbah langsung menekan nekan jempolnya bila ragu. Aku tahu kebiasaan Si Mbah dari dulu. Begitu Si Mbah hanya tersenyum tipis, aku mengerti bahwa Ayah mungkin sudah tiada. Namun, senyum Si Mbah tidak menjawab pertanyaanku. Aku menelengkan kepalaku, menjerembabkan tubuhku diatas dipan reot kesayanganku. Entah kali ini rasanya aku lelah sekali memikirkan pertanyaan tetanggaku yang cerewet itu...
***
Menjelang kelulusan sekolahku, Si Mbah sudah menyiapkan batik pasangan Si Mbah dan Mak’e. Mak’e terlihat cantik berbalut kebaya ungu dan Si Mbah tetap terlihat tampan diantara pasangan orang tua teman-temanku. Kata Si Mbah, aku sudah membuatnya bangga dengan menjadi juara kelas. Namun, semua penghargaanku tak membuatku senang. Ketika orang-orang di sekitarku dipeluk cium oleh ibu-bapaknya, sedangkan kepalaku hanya dielus Si Mbah. Kali ini aku harus menyiapkan nyali untuk bertanya, Kemana ayahku pergi pada Si Mbah.
“Mbah.. Ayah itu kemana? Safe’i sudah siap mbah. Si Mbah tinggal bilang ayah kemana, kok susah tho Mbah...” Akhirnya hari itu Si Mbah menatap mataku benar-benar. Si Mbah menceritakan semua yang telah terjadi sebelum aku sempat lahir. “Le.. Intinya Ayahmu pergi buat kamu. Kamu ada karena Ayahmu kan? Si Mbah sudah cukup lelah menunggu anak Mbah yang satu itu. Kamu nggak perlu mikirin itu le, Biar Si Mbah aja.” Semua itu terasa bagaikan flashback, Mak’e datang membawa singkong goreng dan memberikanku teh hangat. Aku tertegun. Ayahku benar-benar melukai Si Mbah. Apakah aku harus tetap menunggunya dan melukai Si Mbahku? Sepertinya, Aku harus melupakan Ayahku, Demi Si Mbah.
***
Awal SMA, aku semakin terpuruk. Aku lebih sering main game online di dekat sekolahku bahkan aku sudah berani mencoba merokok di toilet sekolah. Si Mbah pernah menanyakanku apakah aku sudah merokok. Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali namun bau rokok masih menempel di bajuku. Sebersit rasa takutku akan cambuk Si Mbah yang siap menjilat kakiku dan menanggalkan noda merah. Tapi nyatanya, Si Mbah malah menepuk punggungku dan kemabali mengajukan pertanyaan, “Gimana sekolahnya, le?”
Si Mbah, di masa tuanya, lebih sering berkelana mencari bibit-bibit buah  baru di daerah kota. Sepulangnya Si Mbah langsung menanamnya di kebun. Setiap hari begitu, dan berturut turut. Sampai – sampai Si Mbah luput mengetahui Mak’e yang sering batuk – batuk di dapur. Aku menuntun Mak’e ke tempat duduknya di ruang tamu. “Mak, Fe’i panggil Mbak Nur ya. Tuh Mbak Nur sudah pulang dari Jember.” Mak’e hanya mengangguk lemah dan kembali meminum air putih yang aku ambil. “Sap, ini Mak’e..  Sakit. Coba dibawa ke puskesmas, Mbak Nur nanti yang temani.” Mbak Nur mengisyaratkanku memberi tahu Si Mbah. Tidak seperti biasanyanya, Si Mbah terlihat tergesa-gesa dan langsung berangkat ke puskesmas. Nampaknya Si Mbah mengkhawatirkan Mak’e.
Puskesmas Ledokombo terlihat ramai hari itu. Mak’e dilayani seorang perawat yang ramah ketika aku mendaftarkan Mak’e ke lobby. Aku menunggu di luar dan Mbak Nur masuk untuk menemani Mak’e di dalam bersama dokter jaga. Aku melihat wajah keruh Mbak Nur setelah keluar dari kamar jaga. Dengan suara pelan, ia menerangkan penyakit Mak’e padaku. “Mak’e kena TBC Sap. Belum telat juga, tapi tubuhnya Mak’e sudah drop. Alhamdulilah, Mbak Nur kenal sama apotekernya, dia kasih obat generic sama Mak’e. Nanti kalau kesini lagi, bilang aja, kamu ponakannya Mbak Nur. Biar Mbak Nur yang beresin administrasinya. Kamu bilang ke Si Mbah, kalau Mak’ e sakit batuk.” Aku hanya mengangguk dan sedetik kemudian bertanya, “Mak’e bakalan sembuh kan Mbak?” Pada saat itu aku melihat keraguan yang besar di wajah Mbak Nur, tapi ia meyakinkanku, dengan menggenggam tanganku erat. “Iya, Sap. Tenang aja, dokter sekarang pinter-pinter kok. Obat juga banyak.” Aku seakan diberikan sedikit kekuatan untuk menyampaikan semuanya ke Si Mbah.
Semenjak itu, Si Mbah lebih sering bolak balik ke kota untuk jualan buah. Aku memandangi kakinya yang kusam dan bajunya yang bertabur peluh tiap senja Si Mbah sampai ke rumah. Aku hanya bisa membuang semua perasaanku dengan membeli selinting rokok di warung dan mengisapnya pelan di kebun. Aku bingung harus melakukan apa untuk Mak’e. Sungguh aku mengkhawatirkan suara batuknya yang semakin lama semakin sering, rintihannya memanggilku untuk mengisikan air hangat di gelas minumnya, dan hembusan nafasnya yang semakin berat. Aku tidak cukup kuat untuk menahan perasaan ingin membantu. Aku rasa, ini perasaan yang sama ketika aku ingin bertanya pada Si Mbah kemana ayah pergi. Aku bingung dan hilang arah.
***
Hari itu aku lelah untuk kembali ke rumah. Aku menendang-nendang kerikil di depanku, dan merogoh sakuku. Uangku sudah habis, dan teman-temanku sudah pergi. Aku tidak bisa meminjam uang mereka lagi karena hutangku pada mereka pun terlalu banyak. Namun, kebanyakan dari mereka tidak complain, apabila aku meminjam uang rokok pada mereka. Yah, mungkin karena mereka juga butuh rokok, dan malas untuk keluar membelinya. Mulutku makin terasa janggal. Aku butuh rokok sekarang!
Sesampainya di warung, aku tertegun. Si Mbah disana! Sedang apa? Nampaknya Si Mbah sedang menawarkan dagangan ke penjaga warung. Pak Parto, penjaga warung yang sudah akrab padaku sedang menawar pada Si Mbah. “Simbahnya Sapi’i ya? Mbah iki piroan mbah?” Pak Parto menunjuk pisang mborlin. “Lha, biasane piroan to le.” Si Mbah memarkirkan sepeda tuanya ke pojok warung. Ups, hampir saja aku ketahuan kalau aku dibelakang tembok. “Wis mbah, sampeyan opo nggak capektho muter-muter Jember, Kalisat Ledokombo Cuma jualan ginian. Sini wes tak beli ae semua ya. Tak kasih rokok juga wes!” Si Mbah terkekeh-kekeh. “Le, kayak baru kenalan sama Simbah aja. Ditambahi kue aja, Si Mbah sudah lama nggak ngerokok. Buat Mak’e sama Safe’i di rumah.” Pak Parto jadi membalasnya dengan senyum. “Safe’i sudah lama nggak kesini Mbah. Dia kayaknya sudah berhenti ngerokok, Yo aku melu seneng, tapi daganganku iki nggak laku-lakue Mbah.” Pak Parto nyengir nyeleneh. Si Mbah mengambil kue dari Pak Parto dan menjawab, “Yo, tak dungakno ndangan laku kabeh. Laris manis! Tapi bukan Safe’i yang beli, wis aku tak mulih sek to. Assalamualaikum!” Pak Parto melambai ke arah Si Mbah dan kembali menata dagangannya. Aku melihat kayuhan kaki Si Mbah semakin lama semakin cepat dan semakin jauh dari mataku.
***
Aku menangis setelahnya. Air mataku berjatuhan. Si Mbah masih tetap seperti dulu, bahkan lebih baik dari dulu. Aku menyesal sempat meragukan Si Mbah. Aku harus berubah, berubah total. Aku yakin, ini saat dimana aku bisa membantu Si Mbah dan Mak’e.
Teman Teman yang dulu sering di sekitarku, lama-lama menjauhiku. Mereka menganggapku tidak sama seperti yang dulu. Aku lebih sering shalat di mushala, aku lebih rajin ke perpustakaan dan bertanya pada guru. Ulangan-ulanganku lama-lama membaik dan Aku bisa meraih peringkatku kembali. Aku kembali menjadi anak kesayangan guru. Awalnya, guru-guruku juga bertanya-tanya kenapa aku bisa berubah pikiran. Tapi semua pertanyaan aku kembalikan pada mereka diri mereka semua. Aku tidak harus menjawab pertanyaan mereka, bukan? Aku harus membalas, kayuhan kaki Si Mbah dengan segala upaya yang bisa aku lakukan. Demi Si Mbah, dan Mak’e semua bisa terjadi!
***
Kayuhan kaki Si Mbahlah yang membuatku bisa bersekolah. Kayuhannya yang pelan namun pasti mengantarkanku ke hari ini, dimana Kepala Sekolah memberikanku ijazah di atas panggung dengan predikat terbaik. Seperti biasa, Si Mbah datang dengan Batik Sumberjambe kebanggaannya dan Mak’e mendampinginya, walaupun aku tahu, Mak’e belum boleh terkena angin. Si Mbah datang menghampiriku dan mengelus kepalaku pelan. Hatiku meluruh pilu, kenapa aku baru sadar untuk membalas kayuhan kakinya yang sendu. Si Mbah yang pilu ditinggal anak laki-laki satu-satunya memperjuangkan pendidikan cucunya yang sempat kabur dari elusan tangannya. Aku bersyukur, Si Mbah dan Mak’e masih ada mendampingiku dalam perjalananku yang saat ini belum tuntas.
Aku sudah siap ketika Si Mbah akan bilang, aku tidak bisa meneruskan kuliah. Tapi tidak seperti yang kuprediksikan, Si Mbah malah berkata, “Le, Si Mbah sudah menawarkan tanah kebun belakang pada pak lurah Ledokombo. Kamu tenang saja, kamu ingin jadi apa? Insyinyur? Dokter? Perawat kayak Mbak Nur? Atau Arsitek? Nanti Si Mbah yang usahakan.” Aku menangis tersedu-sedu. Si Mbah memang tidak berubah, Beliau tetap berusaha membahagiakanku walaupun aku tahu, harta Si Mbah dari dulu kan cuma kebunnya yang rindang. Aku memandang Si Mbah dalam-dalam. “Mbah, Safe’i sudah mengajukan diri mendaftar di STIS. Mbah ndak perlu mbayar, ndak perlu menjual kebun. Safe’i Cuma perlu doa Si Mbah buat memperlancar semuanya. Si Mbah tahu kan Safe’i pintar matematika? Nah..” Aku mulai menjelaskan apa itu STIS, dan biaya pendaftaranpun sudah dibayar oleh Kepala Sekolah. Aku juga bilang, Si Mbah tidak perlu memberiku uang saku, karena sudah ada Tunjangan Ikatan Dinas. Si Mbah hanya perlu memberiku doa. Ya, Aku sudah siap membalas semua kayuhan kaki Si Mbah dari aku lahir sampai detik ini. Alhamdulilah, seluruh berkasku sudah siap dan administrasi sudah beres. Aku juga sudah mempersiapkan semua dan menata mentalku menghadapi hari H. Ujian Tahap satu aku lewati dengan mudah, Matematika adalah ujung tombakku menghadapi semuanya. Aku hanya kesulitan dengan Bahasa Inggris. Ujian kedua dan ketiga aku giring dengan doa Si Mbah dan Mak’e. Juga tak lupa dengan sujudku tiap malam.
Dadaku bergetar. Hari ini tanggal 19 Juli 2013, aku meluruh dengan bumi. Kupanjatkan syukurku dan ku bersujud padanya. Aku diterima, Ya Rab. Akhirnya aku bisa membahagiakan Si Mbah! Aku sedikit kebingungan setelah menerima pengumuman, darimana aku mendapat uang sebanyak dua juta lebih untuk awal masuk? Apa aku harus berkerja magang? Tapi Allah Maha Tahu. Si Mbah yang awalnya sudah bertekad kuat menjual kebunnya tapi malahan di tawarkan pinjaman tanpa batas oleh pak lurah. Pak lurah tersenyum mendengar ceritaku, Beliau menepuk punggungku dan berkata, “Sukses, nak! Ledokombo Kulon mendukungmu.” Aku diantar ke Jakarta dengan Pak lurah dan Si Mbah. Berkali-kali aku mengucap syukur. Inilah awalku, untuk membalas semua kayuhan Si Mbah yang sempat aku sia-siakan.
***
Kali ini aku menelpon Si Mbah dan memberitahunya bahwa aku akan kembali untuk menikmati liburku sehabis magang di Kabupaten Lumajang. Alhamdulilah aku sudah lama diberikan penempatan karena aku termasuk 20 besar di jurusanku. Aku sudah berhasil membiayai Mak’e beberapa tahun ini. Simbah juga sudah melebarkan kebunnya ke segala arah dengan bantuanku. Aku benar benar ingin membayar semua kayuhan kaki Si Mbah, kalau bisa harus seratus kali lebih banyak. Kali ini aku membawa kabar gembira lagi untuknya. Ah aku tidak sabar untuk bertemu Si Mbah.
***
Ternyata Si Mbah sudah berubah, Badannya sudah bertambah tua. Namun urat wajahnya masih seperti dulu. Si Mbah yang sama, makin agamis dan menyayangiku. Mak’e juga semakin sehat. Aku juga tidak bisa melupakan jasa Pak Lurah. Beliau tetap bersahaja seperti dulu. Aku benar benar membuat Si Mbah kaget dengan melihatku membawa foto anak laki-lakinya yang dulu sempat tidak ada kabar, Ya betul, Aku sudah diterima S2 di Malaysia, dan sempat berkenalan dengan TKI asal Indonesia. Dengan berbekal nama dan foto yang usang, Aku berhasil menemukan Ayahku disana. Ternyata beliau tidak pernah melupakanku. Beliau hanya lupa waktu dengan kerjanya. Ayahku berhasil menjadi mandor selama itu, dan sudah mempunyai tempat tinggal tetap disana. Ah, Aku lupa. Si Mbah, kayuhan kakimu, membuat aku, tidak.. bukan. Membuat kita sampai ke detik ini. Alhamdulilah, Terimakasih Si Mbah.

Rabu, 04 September 2013

POLYMER. Apa sih??

Beberapa hari lalu, BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) fakultas Farmasi UNEJ mengadakan acara baru, acara yang belum pernah diadakan sebelumnya. Yap, Olimpiade Farmasi. Mungkin banyak yang tidak tahu karena acara memang diadakan saat hari libur. Polymer atau Pharmaceutical Olympiad of Jember University merupakan kegiatan olimpiade farmasi se Eks-karisidenan Besuki, Lumajang, dan Probolinggo yang diselenggarakan oleh Badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Jember.  Tujuan olimpiade ini adalah untuk berpartisipasi dalam hal meningkatkan intelektualitas bangsa khususnya bagi siswa/siswi SMA/SMK sederajat, memperkenalkan dunia kefarmasian, serta mengembangkan hard skill dan soft skill siswa Sekolah Menengah Atas/sederajat.

Tahun ini merupakan tahun pertama diadakannya olimpiade farmasi oleh fakultas Farmasi Universitas Jember. Kegiatan olimpiade yang bertemakan Brand New and Breakthrough of Jember University ini sukses dilaksanakan pada hari Minggu, 1 September 2013 bertempat di fakultas Farmasi Universitas Jember dan diikuti oleh 135 perserta yang tergabung dalam 45 tim. Mungkin banyak dari teman mahasiswa yang tidak tahu karena acara memang tidak dipublikasi kepada mahasiswa. Untuk lebih meriah, sekedar saran nih mungkin bisa dipublikasi kepada mahasiswa, biar ga keliatan "krik" kalo katanya nyebutin sepi hihi. Oke lanjut....
Olimpiade ini terbagi menjadi tiga babak. Babak pertama merupakan babak penyisihan dimana peserta diberi soal sebanyak seratus, sepuluh soal diantaranya adalah pengetahuan tentang dasar-dasar farmasi dan sisanya merupakan pengetahuan IPA tingkat SMA. Dimana yang bertindak sebagai juri dari olimpiade ini adalah dosen dari fakultas Farmasi Universitas Jember, yaitu ibu Evi Umayah Ulfa dan ibu Yuni Retnaningtyas. Dari babak pertama didapat sepuluh peserta terbaik yang akan melaju ke babak selanjutnya untuk memperebutkan posisi lima besar di babak final. Pada final, SMA Negeri 1 Jember berhasil menjadi juara babak pertama. Sekedar info, semua peserta mendapat sertifikat tapi peserta yang lolos 5 besar mendapat 2 sertifikat, selain sebagai peserta juga sebagai champion.

Menurut ketua panitia acara Polymer 2013, Yora Utami, suksesnya acara ini tidak lepas dari kendala-kendala yang ada, seperti terbatasnya korelasi dengan Sekolah Menengah Atas dan sederajat karena ini merupakan acara olimpiade pertama bagi fakultas Farmasi Universitas Jember. “Tapi kendala tersebut dapat diatasi dengan baik berkat kerjasama panitia pelaksana sehingga Alhamdulilah mampu menarik peserta dari setiap daerah di Eks-karisedenan Besuki, Lumajang, dan Probolinggo”, tambah Yora. Yora juga menambahkan bahwa sebenarnya olimpiade ini ingin dilaksanakan se-Jawa Timur, namun karena terbatasnya waktu promosi, acara ini dilaksanakan se-ekskarisidenan Besuki, Lumajang, dan Probolinggo saja. Suksesnya acara ini memberi gebrakan baru bagi fakultas Farmasi Unversitas Jember untuk lebih melebarkan sayapnya di tingkat Jawa Timur atau bahkan tingkat nasional di tahun depan.
Selamat bagi para pemenang, semoga ilmu, pengalaman, dan hadiah yang didapat bermanfaat. Selamat juga untuk BEM dan panitia POLYMER atas suksesnya acara, semoga lebih sukses untuk polymer tahun depan, lebih banyak peserta dan lebih meriah. Salam mahasiswa!